makalah model-model pengembang kurikulum
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan dibutuhkan yang dinamakan kurikulum
yang membantu dalam mencapai tujuan pendidikan Nasional. Berbagai jenis dalam
pengembangan kurikulum dipakai oleh pemerintahan Indonesia dalam mencapai
cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi
penerus bangsa yang berakhlaq serta berbudi pekerti luhur. Hal ini perlu adanya
kerja sama antara Pemerintah pusat, administrator, kepala kantor wilayah
pendidikan, kebudayaan, serta peranan guru dalam pendidikan. Banyak model yang
dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model
pengembangan kurikulum bukan saja berdasarkan atas kelebihan dan
kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi
juga perlu disesuaikan dengan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta
konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem
pendidikan dan pengolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang
desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang bersifat subjek
akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi
sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Model-Model Pengembangan
Kurikulum?
2. Bagaiman bentuk Model-Model pengembangan
kurikulum dalam pendidikan?
C. Tujuan Makalah
1. mengetahui pengertian Model-model
Pengembangan Kurikulum
2. Mengetahui bentuk Model-model
pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pengembangan
Kurikulum
Model
pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka
mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi
(evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum
harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat
memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. (Ruhimat, T.
dkk 2009: 74).
Model juga adalah pola-pola
penting yang berguna sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan. Model dapat ditemukan dalam hampir setiap bentuk kegiatan pendidikan, seperti model pengajaran, model adtninistrasi, model
evaluasi, model supervisi dan model lainnya. Menggunakan model pada perkembangan kurikulum dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Banyak sekolah/fakultas
mempunyai rancangan untuk satu tahun, mereka telah memikirkan polanya untuk
memecahkan masalah pendidikan atau prosedur yang tidak dapat dihindari,
walaupun begitu mereka tidak mempunyai lebel kegiataanya sebagai rancangan.
Menurut
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan
kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga
menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan
Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi
peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta
lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan
sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang
memberikan relevansi pada masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa
Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif,
matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru
ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada
masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat
menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan
menyeluruh.
B. Model-Model Pengembangan
Kurikulum
Berdasarkan
perkembangan para ahli kurikulum, dewasa ini telah banyak menyajikan
model-model pengembangan kurikulum. Dimana setiap model memiliki kekhasan
tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri
maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya. Dalam
makalah ini hanya beberapa model yang disajikan, dan guru dapat
mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. Model-model pengembangan kurikulum
dari berbagai pendapat antara lain adalah:
1. Model
Ralph Tyler
Dalam bukunya yang berjudul Basic Principles Curriculum and Instruction
(1949), Tyler mengatakan bahwa curriculum development needed to be treted
logically and systematically. Ia berupaya menjelasskan tentang pentingnya
pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasi kurikulum dan program pengajarannya
dari suatu pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Pengembangan kurikulum
model Tyler ini mungkin yang terbaik, dengan penekanan khusus pada fase
perencanaan. Walaupun Tyler mengajukan model pengembangan kurikulum secara
komprehensif tetapi bagian pertama dari modelnya (seleksi tujuan) menerima
sambutan yang hangat dari para educator.
Langkah-langkah pengembangan
kurikulum:
a. Langkah l: Tyler merekomendasikan,
bahwa perencana kurikulum agar mengidentifikasikan tujuan umum (tentative
general objectives) dengan mengumpulkan data dari tiga sumber, yaitu :
kebutuhan peserta didik, masyarakat (fimgsi yang diperlukan) dan subject
matter.
b. Langkah 2: Setelah mengidentifikasi
beberapa buah tujuan umum, perencana merifinenya dengan cara menyaring melalui
dua saringan, yaitu filosofi pendidikan dan psikologi belajar. . Tyler pun
menyarankan agar pendidik memberi perhatian kepada cara belajar yang dapat :
1) Mengembangkan kemampuan berpikir
2) Menolong dalam memperoleh informasi
3) Mengembangkan sikap masyaraka
4) Mengembangkan minat
5) Mengembangkan sikap kemasyarakatan
c. Langkah 3: Menyeleksi pengalaman belajar yang
menunjang pencapaian tujuan. Penentuan pengalaman belajar harus
mempertimbangkan persepsi dan pengalaman yang telah dimililiki oleh peserta
didik
d. Langkah 4: Mengorganisasikan pengalaman
kedalam unit-unit dan menggambarkan berbagai prosedur evaluasi
e. Langkah 5: Mengarahkan dan mengurutkan
pengalaman-pengalaman belajar dan mengkaitkannya dengan evaluasi terhadap
keefektifan perencanaan dan pelaksanaan.
f. Langkah 6: Evaluasi pengalaman belajar.
Evaluasi merupakan komponen penting dalam pengembangan kurikulum
Sehubungan dengan hal tersebut Tyler
(1949) memperingatkan agar dibedakan antara konten (isi) pelajaran atau kegiatan-kegiatan
belajar dengan pengalaman-pengalaman belajar, karena pengalaman belajar
merupakan pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil
belajar dan interaksi mereka dengan konten (isi) dan kegiatan belajar.
2.
Model
Administratif
Pengembangan kurikulum ini disebut juga dengan istilah dari atas ke
bawah (top down) atau staff lini (line-staff procedure), artinya dalam
pengembangan kurikulum ini terdapat beberapa tahapan secara prosedural yang
harus ditempuh dengan dibantu oleh beberapa tim tertentu.
a.
Langkah
pertama adalah pembentukan ide awal yang dilaksanakan oleh para pejabat tingkat
atas, yang membuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangagn
kurikulum. Tim ini sekaligus sebagai tim pengarah dalam pengembangan kurikulum.
b.
Langkah
kedua adalah membentuk suatu tim panitia pelaksana atau komisi untuk
mengembangkan kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari
para ahli, yaitu: ahli pendidikan, kurikulum, disiplin imu, tokoh masyarakat,
tim 6 pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja. Tim ini bertugas untuk
mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi
pengembangan kurikulum yang selanjutnya menyusun kurikulum secara opersional
berkaitan dengan pengembangan atau perumusan tujuan pendidikan maupun
pembelajaran, pemilihan dan penyusunan rambu-rambu dan substansi materi
pembelajaran, menyusun alternatif proses pembelajaran, dan menentukan penilaian
pembelajaran.
c.
Langkah
ketiga, kurikulum yang sudah selesai disusun kemudia diajukan untuk diperiksa
dan diperbaiki oleh tim pengarah. Tim ini melakukan penyesuaian antara
aspek-aspek kurikulum secara terkoordinasi dan menyiapkan secara sistem dalam
rangka uji coba maupun dalam rangka sosialisasi dan penyebarluasan
(desiminasi). Setelah perbaikan dan penyempurnaan, kurikulum tersebut perlu diujicobakan
secara nyata di beberapa sekolah yang diangga representatif. Pelaksana uji coba
adalah tenaga professional yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum.
Supaya uji coba tersebut menghasilkan masukan yang efektif maka diperlukan
kegiatan monitoring dan evaluasi yang fungsinya untuk memperbaiki atau
menyempurnakan berdasarkan pelaksanaan di lapangan. Kelemahan dari model
administratif adalah kurikulum ini bentuknya seragam dan bersifat sentralistik,
sehingga kurang sesuai jika diterapkan dalam dunia pendidikan yang menganut
asas desentralisasi. Selain dari pada iti, kurikulum ini kurang tanggap
terhadap perubahan nyata yang dihadapi para pelaksana kurikulum di lapangan.
3.
Model Beuchamp
Sesuai dengan
namanya, model ini diformulasikan oleh G.A. Beauchamp (1964) , yaitu mengemukan
ada lima langkah penting dalam pengembilan keputusan pengembangan kurikulum.
Menurut Beauchamp
untuk nierancang sebuah kurikulum harus ditempuh lima (5) langkah.
a. Langkah Pertama, Pejabat pemerintah
yang berwenang dalam pengembangan kurikulum harus menentukan lebih dahulu
lokasi atau wilayah yang akan dijadikan pilot proyek untuk pengembangan
kurikulum. Pemilahan lokasi atau wilayah yang ditentukan sesuai dengan skala
pengembangan kurikulum yang telah direncanakan.
b. Langkah Kedua, adalah menentukan
personalia yang akan ikut terlibat di dalam pengembangan kurikulum. Beauchamp
melibatkan orang-orang dari staf ahli kurikulum, pakar kurikulum dari perguruan
tinggi dan guru-guru sekolah yang telah dipilih, pakar pendidikan, masyarakat
yang dihimpun dari berbagai kalangan yaitu dari pengarang atau penulis,
penerbit, politikus, pejabat pemerintah, pengusaha dan industriawan
c. Langkah Ketiga, Bila personalia
sudah disusun dengan baik maka langkah berikutnya adalah pengorganisasian person-person
tersebut dalam lima (5) tim yang terdiri dari :
1) tim pengembang kurikulum
2) tim peneliti kurikulum yang sedang dipakai
atau sedang dipergunakan
3) tim untuk mempelajari kemungkinan
penyusunan kurikulum bam
4) tim perumus untuk kriteria-kriteria kurikulum
yang akan disusun.
5) tim penyusun dan penulis kurikulum
baru
d. Langkah Keempat, Pada langkah ini
ditentukan implementasi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum mempakan pekerjaan yng
cukup rumit karena membutuhkan kesiapan dalam banyak hal, seperti guru sebagai
pelaksana kurikulum dikelas, fasilitas, siswa, dana, manajerial pimpinan
sekolah atau administrator sekolah.
e. Langkah Kelima, merupakan langkah
terakhir dari pengembangan kurikulum model beauchamp adalah mengevaluasi
kurikulum.
Beauchamp
mengemukakan hal-hal yang harus dievaluasi, yaitu :
1) Evaluasi terhadap pelaksanaan
kurikulum oleh guru
2) Evaluasi terhadap desain kurikulum
3) Evaluasi terhadap hasil belajar
siswa
4.
Model Hilda Taba
Pada beberapa buku karya Hilda Taba
yang paling terkenal dan besar pengaruhnya adalah Curriculum Development:
Theory and Pratice (1962). Dalam buku ini, Hilda Taba mengungkapkan
pendekatanya untuk proses pengembangan kurikulum. Dalam pekerjaanya itu, Taba mengindetifasikan
model dasar Tayler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum di
berbagai sekolah. Model pengembangan kurikulum ini oleh Hilda Tiba ini berbeda dengan lazimnya
yang banyak diitempuh secara yang bersifat dekduktif karena caranya induktif. Taba percaya kurikulum harus dirancang oleh guru dan bukan
diberikan oleh pihak berwenang. Menurut Taba guru harus memulai proses dengan
menciptakan suatu unit belajar mengajar khusus bagi murid-murid mereka
disekolah dan bukan terlibat dalam rancangan suatu kurikulum umum. Oleh Karena
itu sring disebut “Model Terbalik” atau “Inverted Model” . Taba mencantumkan lima langkah urutan untuk mencapai perubahan
kurikulum, sebagai berikut :
a.
Producing Pilot Units (membuat unit
percontohan) yang mewakili peringkat kelas atau mata pelajaran. Taba melihat
langkah ini sebagai penghubung antara teori dan praktek.
1)
Diagnosis
of needs (diagnosa kebutuhan). Pengembang kurikulummemulai dengan menentukan
kebutuhan-kebutuhan siswa kepada siapa kurikulum direncanakan.
2)
Formulation
of objectives (merumuskan tujuan). Setelah kebutuhan siswadidiagnosa, perencana
kurikulum memerinci tujuan – tujuan yang akan dicapai.
3)
Selection
of content (pemilihan isi). Bahasan yang akan dipelajari berpangkal langsung
dari tujuan-tujuan.
4)
Organization
of content (organisasi isi). Setelah isi/bahasan dipilih, tugas selanjutnya
adalah menentukan pada tingkat dan urutan yang mana mata pelajaran ditempatkan.
5)
Selection
of learning experiences (pemilihan pengalaman belajar).Metodologi atau strategi
yang dipergunakan dalam bahasan harus dipilih oleh perencana kurikulum.
6)
Organization
of learning activities (organisasi kegiatan pembelajaran). Guru memutuskan
bagaimana mengemas kegiatan-kegiatan pembelajaran dan dalam kombinasi atau
urutan seperti apa kegiatan-kegiatan tersebut akan digunakan.
7)
Determination
of what to evaluate and of the ways and means of doing it (Penentuan tentang
apa yang akan dievaluasi dan cara serta alat yang dipakai untuk melakukan
evaluasi). Perencana kurikulum harus memutuskan apakah tujuan sudah tercapai.
Guru rnemilih alat dan teknikyang tepat untuk menilai keberhasilan siswa dan
untuk menentukan apakah tujuan kurikulum sudah tercapai.
8)
Checking
for balance and sequence(memeriksa keseimbangan dan urutan). Taba meminta pendapat
dari pekerja kurikulurn untuk melihat konsistensi diantara berbagai bagian dari
unit belajar mengajar, untuk melihat alur pembelajaran yang baik dan untuk
keseimbangan antara berbagai macam pembalajaran dan ekspresi.
b.
Testing
Experimental Units (menguji unit percobaan). Uji ini diperlukan untuk mengecek
validitas dan apakah materi tersebut dapat diajarkan dan untuk mcnetapkan batas
atas dan batas bawah dari kemampuan yang diharapkan.
c.
Revising
and Consolidating (revisi dan konsolidasi). Unit pembelajaran dimodifikasi
menyesuaikan dengan keragaman kebutuhan dan kemampuan siswa, sumber daya yang
tersedia dan berbagai gaya mengajar sehingga kurikulum dapat sesuai dengan
semua tipe kelas.
d.
Developing
a framework (pengembangan kerangka kerja). Setelah sejumlah unitdirancang,
perencana kurikulum harus memeriksa apakah ruang lingkup sudah memadai dan
urutannya sudah benar.
e.
Installing
and disseminating new units(memasang dan menyebarkan unitunit baru).Mengatur
pelatihan sehingga guru-guru dapat secara efektif mengoperasikan unit belajar
mengajar di kelas mereka.
5.
Model Seller dan Miller
Pengembangan kurikulum ini ada perbedaan dengan model-model
sebelumnya. model pengembangan kurikulum Miller-Seller merupakan pengembangan
kurikulum kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s
& Robinson), dengan tahapan pengembangan sebagai berikut:
a.
Klarifikasi
Orientasi Kurikulum Orientasi ini merefleksikan pandangan filosofis,
psikologos, dan sosiologis terhadap kurikulum yang seharusnya dikembangkan.
Menurut Miller dan Seller, ada tiga jenis orientasi kurikulum yaitu tranmisi,
transaksi, dan transformasi.
b.
Pengembangan
Tujuan Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tujaun umum dan tujuan khusus
berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan.Tujuan umum dalam konteks ini
adalah merefleksikan pandangan orang (image person) dan pandangan (image) 9
kemasyarakatan. Tujuan pengembangan merupakan tujuan yang masih relative umum.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan tujuan-tujuan yang lebih khusus hingga pada
tujuan instruksional.
c.
Identifikasi
Model Mengajar Pada tahap ini pelaksana kurikulum harus mengidentifikasi
strategi mengajar yang akan digunakan yang disesuaikan dengan tujuan dan
orientasi kurikulum. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam
menentukan model mengajar yang akan digunakan, yaitu:
1)
Disesuaikan
dengan tujuan umum maupun tujuan khusus.
2)
Strukturnya
harus sesuai dengan kebutuhan siswa.
3)
Guru
yang menerapkan kurikulum ini harus sudah memahami secara utuh, sudah dilatih,
dan mendukung model.
4)
Tersedia
sumber-sumber yang esensial dalam pengembangan model.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpula
Ø Keberadaan model-model pengembangan
kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum dan
dengan mempelajari model-model pengembangan kurikulum dapat memudahkan dalam
melakukan pengembangan kurikulum.
Ø Pada saat ini banyak para ahli yang
mengemukakan tentang model-model pengembangan kurikulum, tetapi setiap model
pengembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, juga memiliki
kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan masing-masing model arahan
pengembangannya berbeda-beda ada yang menitikberatkan pada pengambil
kebijaksanaan, pada perumusan tujuan, perumusan isi pelajaran, pelaksanaan
kurikulum itu sendiri dan evaluasi kurikulum.
B.
Saran
Ø peserta didik pasti memiliki kebutuhan dan kemampuan yang
berbedabeda, sebagai guru, kita dituntut untuk memilih kurikulum yang sesuai
dengan peserta didik, pada dasarnya kurikulumlah yang menyesuaikan peserta
didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan pada kurikulum. untuk memilih
model pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan anak, namun
perlu ditekankan pula, perlu adanya pemerataan fasilitas pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan dibutuhkan yang dinamakan kurikulum
yang membantu dalam mencapai tujuan pendidikan Nasional. Berbagai jenis dalam
pengembangan kurikulum dipakai oleh pemerintahan Indonesia dalam mencapai
cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi
penerus bangsa yang berakhlaq serta berbudi pekerti luhur. Hal ini perlu adanya
kerja sama antara Pemerintah pusat, administrator, kepala kantor wilayah
pendidikan, kebudayaan, serta peranan guru dalam pendidikan. Banyak model yang
dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model
pengembangan kurikulum bukan saja berdasarkan atas kelebihan dan
kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi
juga perlu disesuaikan dengan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta
konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem
pendidikan dan pengolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang
desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang bersifat subjek
akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi
sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Model-Model Pengembangan
Kurikulum?
2. Bagaiman bentuk Model-Model pengembangan
kurikulum dalam pendidikan?
C. Tujuan Makalah
1. mengetahui pengertian Model-model
Pengembangan Kurikulum
2. Mengetahui bentuk Model-model
pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pengembangan
Kurikulum
Model
pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka
mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi
(evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum
harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat
memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. (Ruhimat, T.
dkk 2009: 74).
Model juga adalah pola-pola
penting yang berguna sebagai pedoman untuk melakukan suatu tindakan. Model dapat ditemukan dalam hampir setiap bentuk kegiatan pendidikan, seperti model pengajaran, model adtninistrasi, model
evaluasi, model supervisi dan model lainnya. Menggunakan model pada perkembangan kurikulum dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Banyak sekolah/fakultas
mempunyai rancangan untuk satu tahun, mereka telah memikirkan polanya untuk
memecahkan masalah pendidikan atau prosedur yang tidak dapat dihindari,
walaupun begitu mereka tidak mempunyai lebel kegiataanya sebagai rancangan.
Menurut
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan
kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction) bisa juga
menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Sedangkan
Model menurut Good dan Travers adalah abstraksi dunia nyata atau representasi
peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta
lambang-lambang lainnya. Rivett (1972) menyatakan bahwa model adalah hubungan
sebuah logika secara, salah satunya kualitatif atau kuantitatif, yang
memberikan relevansi pada masa mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa
Pengembangan Model Kurikulum adalah suatu sistem dalam bentuk naratif,
matematis, grafis, serta lambang-lambang dalam penyusunan kurikulum yang baru
ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada yang memberikan relevansi pada
masa mendatang. Nadler mengatakan bahwa model yang baik adalah model yang dapat
menolong sipenggguna untuk mengerti dan memahami suatu proses yang mendasar dan
menyeluruh.
B. Model-Model Pengembangan
Kurikulum
Berdasarkan
perkembangan para ahli kurikulum, dewasa ini telah banyak menyajikan
model-model pengembangan kurikulum. Dimana setiap model memiliki kekhasan
tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri
maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya. Dalam
makalah ini hanya beberapa model yang disajikan, dan guru dapat
mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. Model-model pengembangan kurikulum
dari berbagai pendapat antara lain adalah:
1. Model
Ralph Tyler
Dalam bukunya yang berjudul Basic Principles Curriculum and Instruction
(1949), Tyler mengatakan bahwa curriculum development needed to be treted
logically and systematically. Ia berupaya menjelasskan tentang pentingnya
pendapat secara rasional, menganalisis, menginterpretasi kurikulum dan program pengajarannya
dari suatu pengajaran dari suatu lembaga pendidikan. Pengembangan kurikulum
model Tyler ini mungkin yang terbaik, dengan penekanan khusus pada fase
perencanaan. Walaupun Tyler mengajukan model pengembangan kurikulum secara
komprehensif tetapi bagian pertama dari modelnya (seleksi tujuan) menerima
sambutan yang hangat dari para educator.
Langkah-langkah pengembangan
kurikulum:
a. Langkah l: Tyler merekomendasikan,
bahwa perencana kurikulum agar mengidentifikasikan tujuan umum (tentative
general objectives) dengan mengumpulkan data dari tiga sumber, yaitu :
kebutuhan peserta didik, masyarakat (fimgsi yang diperlukan) dan subject
matter.
b. Langkah 2: Setelah mengidentifikasi
beberapa buah tujuan umum, perencana merifinenya dengan cara menyaring melalui
dua saringan, yaitu filosofi pendidikan dan psikologi belajar. . Tyler pun
menyarankan agar pendidik memberi perhatian kepada cara belajar yang dapat :
1) Mengembangkan kemampuan berpikir
2) Menolong dalam memperoleh informasi
3) Mengembangkan sikap masyaraka
4) Mengembangkan minat
5) Mengembangkan sikap kemasyarakatan
c. Langkah 3: Menyeleksi pengalaman belajar yang
menunjang pencapaian tujuan. Penentuan pengalaman belajar harus
mempertimbangkan persepsi dan pengalaman yang telah dimililiki oleh peserta
didik
d. Langkah 4: Mengorganisasikan pengalaman
kedalam unit-unit dan menggambarkan berbagai prosedur evaluasi
e. Langkah 5: Mengarahkan dan mengurutkan
pengalaman-pengalaman belajar dan mengkaitkannya dengan evaluasi terhadap
keefektifan perencanaan dan pelaksanaan.
f. Langkah 6: Evaluasi pengalaman belajar.
Evaluasi merupakan komponen penting dalam pengembangan kurikulum
Sehubungan dengan hal tersebut Tyler
(1949) memperingatkan agar dibedakan antara konten (isi) pelajaran atau kegiatan-kegiatan
belajar dengan pengalaman-pengalaman belajar, karena pengalaman belajar
merupakan pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil
belajar dan interaksi mereka dengan konten (isi) dan kegiatan belajar.
2.
Model
Administratif
Pengembangan kurikulum ini disebut juga dengan istilah dari atas ke
bawah (top down) atau staff lini (line-staff procedure), artinya dalam
pengembangan kurikulum ini terdapat beberapa tahapan secara prosedural yang
harus ditempuh dengan dibantu oleh beberapa tim tertentu.
a.
Langkah
pertama adalah pembentukan ide awal yang dilaksanakan oleh para pejabat tingkat
atas, yang membuat keputusan dan kebijakan berkaitan dengan pengembangagn
kurikulum. Tim ini sekaligus sebagai tim pengarah dalam pengembangan kurikulum.
b.
Langkah
kedua adalah membentuk suatu tim panitia pelaksana atau komisi untuk
mengembangkan kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari
para ahli, yaitu: ahli pendidikan, kurikulum, disiplin imu, tokoh masyarakat,
tim 6 pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja. Tim ini bertugas untuk
mengembangkan konsep-konsep umum, landasan, rujukan, maupun strategi
pengembangan kurikulum yang selanjutnya menyusun kurikulum secara opersional
berkaitan dengan pengembangan atau perumusan tujuan pendidikan maupun
pembelajaran, pemilihan dan penyusunan rambu-rambu dan substansi materi
pembelajaran, menyusun alternatif proses pembelajaran, dan menentukan penilaian
pembelajaran.
c.
Langkah
ketiga, kurikulum yang sudah selesai disusun kemudia diajukan untuk diperiksa
dan diperbaiki oleh tim pengarah. Tim ini melakukan penyesuaian antara
aspek-aspek kurikulum secara terkoordinasi dan menyiapkan secara sistem dalam
rangka uji coba maupun dalam rangka sosialisasi dan penyebarluasan
(desiminasi). Setelah perbaikan dan penyempurnaan, kurikulum tersebut perlu diujicobakan
secara nyata di beberapa sekolah yang diangga representatif. Pelaksana uji coba
adalah tenaga professional yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kurikulum.
Supaya uji coba tersebut menghasilkan masukan yang efektif maka diperlukan
kegiatan monitoring dan evaluasi yang fungsinya untuk memperbaiki atau
menyempurnakan berdasarkan pelaksanaan di lapangan. Kelemahan dari model
administratif adalah kurikulum ini bentuknya seragam dan bersifat sentralistik,
sehingga kurang sesuai jika diterapkan dalam dunia pendidikan yang menganut
asas desentralisasi. Selain dari pada iti, kurikulum ini kurang tanggap
terhadap perubahan nyata yang dihadapi para pelaksana kurikulum di lapangan.
3.
Model Beuchamp
Sesuai dengan
namanya, model ini diformulasikan oleh G.A. Beauchamp (1964) , yaitu mengemukan
ada lima langkah penting dalam pengembilan keputusan pengembangan kurikulum.
Menurut Beauchamp
untuk nierancang sebuah kurikulum harus ditempuh lima (5) langkah.
a. Langkah Pertama, Pejabat pemerintah
yang berwenang dalam pengembangan kurikulum harus menentukan lebih dahulu
lokasi atau wilayah yang akan dijadikan pilot proyek untuk pengembangan
kurikulum. Pemilahan lokasi atau wilayah yang ditentukan sesuai dengan skala
pengembangan kurikulum yang telah direncanakan.
b. Langkah Kedua, adalah menentukan
personalia yang akan ikut terlibat di dalam pengembangan kurikulum. Beauchamp
melibatkan orang-orang dari staf ahli kurikulum, pakar kurikulum dari perguruan
tinggi dan guru-guru sekolah yang telah dipilih, pakar pendidikan, masyarakat
yang dihimpun dari berbagai kalangan yaitu dari pengarang atau penulis,
penerbit, politikus, pejabat pemerintah, pengusaha dan industriawan
c. Langkah Ketiga, Bila personalia
sudah disusun dengan baik maka langkah berikutnya adalah pengorganisasian person-person
tersebut dalam lima (5) tim yang terdiri dari :
1) tim pengembang kurikulum
2) tim peneliti kurikulum yang sedang dipakai
atau sedang dipergunakan
3) tim untuk mempelajari kemungkinan
penyusunan kurikulum bam
4) tim perumus untuk kriteria-kriteria kurikulum
yang akan disusun.
5) tim penyusun dan penulis kurikulum
baru
d. Langkah Keempat, Pada langkah ini
ditentukan implementasi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum mempakan pekerjaan yng
cukup rumit karena membutuhkan kesiapan dalam banyak hal, seperti guru sebagai
pelaksana kurikulum dikelas, fasilitas, siswa, dana, manajerial pimpinan
sekolah atau administrator sekolah.
e. Langkah Kelima, merupakan langkah
terakhir dari pengembangan kurikulum model beauchamp adalah mengevaluasi
kurikulum.
Beauchamp
mengemukakan hal-hal yang harus dievaluasi, yaitu :
1) Evaluasi terhadap pelaksanaan
kurikulum oleh guru
2) Evaluasi terhadap desain kurikulum
3) Evaluasi terhadap hasil belajar
siswa
4.
Model Hilda Taba
Pada beberapa buku karya Hilda Taba
yang paling terkenal dan besar pengaruhnya adalah Curriculum Development:
Theory and Pratice (1962). Dalam buku ini, Hilda Taba mengungkapkan
pendekatanya untuk proses pengembangan kurikulum. Dalam pekerjaanya itu, Taba mengindetifasikan
model dasar Tayler agar lebih representatif terhadap pengembangan kurikulum di
berbagai sekolah. Model pengembangan kurikulum ini oleh Hilda Tiba ini berbeda dengan lazimnya
yang banyak diitempuh secara yang bersifat dekduktif karena caranya induktif. Taba percaya kurikulum harus dirancang oleh guru dan bukan
diberikan oleh pihak berwenang. Menurut Taba guru harus memulai proses dengan
menciptakan suatu unit belajar mengajar khusus bagi murid-murid mereka
disekolah dan bukan terlibat dalam rancangan suatu kurikulum umum. Oleh Karena
itu sring disebut “Model Terbalik” atau “Inverted Model” . Taba mencantumkan lima langkah urutan untuk mencapai perubahan
kurikulum, sebagai berikut :
a.
Producing Pilot Units (membuat unit
percontohan) yang mewakili peringkat kelas atau mata pelajaran. Taba melihat
langkah ini sebagai penghubung antara teori dan praktek.
1)
Diagnosis
of needs (diagnosa kebutuhan). Pengembang kurikulummemulai dengan menentukan
kebutuhan-kebutuhan siswa kepada siapa kurikulum direncanakan.
2)
Formulation
of objectives (merumuskan tujuan). Setelah kebutuhan siswadidiagnosa, perencana
kurikulum memerinci tujuan – tujuan yang akan dicapai.
3)
Selection
of content (pemilihan isi). Bahasan yang akan dipelajari berpangkal langsung
dari tujuan-tujuan.
4)
Organization
of content (organisasi isi). Setelah isi/bahasan dipilih, tugas selanjutnya
adalah menentukan pada tingkat dan urutan yang mana mata pelajaran ditempatkan.
5)
Selection
of learning experiences (pemilihan pengalaman belajar).Metodologi atau strategi
yang dipergunakan dalam bahasan harus dipilih oleh perencana kurikulum.
6)
Organization
of learning activities (organisasi kegiatan pembelajaran). Guru memutuskan
bagaimana mengemas kegiatan-kegiatan pembelajaran dan dalam kombinasi atau
urutan seperti apa kegiatan-kegiatan tersebut akan digunakan.
7)
Determination
of what to evaluate and of the ways and means of doing it (Penentuan tentang
apa yang akan dievaluasi dan cara serta alat yang dipakai untuk melakukan
evaluasi). Perencana kurikulum harus memutuskan apakah tujuan sudah tercapai.
Guru rnemilih alat dan teknikyang tepat untuk menilai keberhasilan siswa dan
untuk menentukan apakah tujuan kurikulum sudah tercapai.
8)
Checking
for balance and sequence(memeriksa keseimbangan dan urutan). Taba meminta pendapat
dari pekerja kurikulurn untuk melihat konsistensi diantara berbagai bagian dari
unit belajar mengajar, untuk melihat alur pembelajaran yang baik dan untuk
keseimbangan antara berbagai macam pembalajaran dan ekspresi.
b.
Testing
Experimental Units (menguji unit percobaan). Uji ini diperlukan untuk mengecek
validitas dan apakah materi tersebut dapat diajarkan dan untuk mcnetapkan batas
atas dan batas bawah dari kemampuan yang diharapkan.
c.
Revising
and Consolidating (revisi dan konsolidasi). Unit pembelajaran dimodifikasi
menyesuaikan dengan keragaman kebutuhan dan kemampuan siswa, sumber daya yang
tersedia dan berbagai gaya mengajar sehingga kurikulum dapat sesuai dengan
semua tipe kelas.
d.
Developing
a framework (pengembangan kerangka kerja). Setelah sejumlah unitdirancang,
perencana kurikulum harus memeriksa apakah ruang lingkup sudah memadai dan
urutannya sudah benar.
e.
Installing
and disseminating new units(memasang dan menyebarkan unitunit baru).Mengatur
pelatihan sehingga guru-guru dapat secara efektif mengoperasikan unit belajar
mengajar di kelas mereka.
5.
Model Seller dan Miller
Pengembangan kurikulum ini ada perbedaan dengan model-model
sebelumnya. model pengembangan kurikulum Miller-Seller merupakan pengembangan
kurikulum kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s
& Robinson), dengan tahapan pengembangan sebagai berikut:
a.
Klarifikasi
Orientasi Kurikulum Orientasi ini merefleksikan pandangan filosofis,
psikologos, dan sosiologis terhadap kurikulum yang seharusnya dikembangkan.
Menurut Miller dan Seller, ada tiga jenis orientasi kurikulum yaitu tranmisi,
transaksi, dan transformasi.
b.
Pengembangan
Tujuan Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tujaun umum dan tujuan khusus
berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan.Tujuan umum dalam konteks ini
adalah merefleksikan pandangan orang (image person) dan pandangan (image) 9
kemasyarakatan. Tujuan pengembangan merupakan tujuan yang masih relative umum.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan tujuan-tujuan yang lebih khusus hingga pada
tujuan instruksional.
c.
Identifikasi
Model Mengajar Pada tahap ini pelaksana kurikulum harus mengidentifikasi
strategi mengajar yang akan digunakan yang disesuaikan dengan tujuan dan
orientasi kurikulum. Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam
menentukan model mengajar yang akan digunakan, yaitu:
1)
Disesuaikan
dengan tujuan umum maupun tujuan khusus.
2)
Strukturnya
harus sesuai dengan kebutuhan siswa.
3)
Guru
yang menerapkan kurikulum ini harus sudah memahami secara utuh, sudah dilatih,
dan mendukung model.
4)
Tersedia
sumber-sumber yang esensial dalam pengembangan model.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpula
Ø Keberadaan model-model pengembangan
kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum dan
dengan mempelajari model-model pengembangan kurikulum dapat memudahkan dalam
melakukan pengembangan kurikulum.
Ø Pada saat ini banyak para ahli yang
mengemukakan tentang model-model pengembangan kurikulum, tetapi setiap model
pengembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda, juga memiliki
kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan masing-masing model arahan
pengembangannya berbeda-beda ada yang menitikberatkan pada pengambil
kebijaksanaan, pada perumusan tujuan, perumusan isi pelajaran, pelaksanaan
kurikulum itu sendiri dan evaluasi kurikulum.
B.
Saran
Ø peserta didik pasti memiliki kebutuhan dan kemampuan yang
berbedabeda, sebagai guru, kita dituntut untuk memilih kurikulum yang sesuai
dengan peserta didik, pada dasarnya kurikulumlah yang menyesuaikan peserta
didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan pada kurikulum. untuk memilih
model pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan anak, namun
perlu ditekankan pula, perlu adanya pemerataan fasilitas pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

Bagus makalah nya
BalasHapusmembantu banget. thanks ya infonya
BalasHapus